Senin, 17 Feb 2020
  • Home
  • global
  • Selain Bawang Putih, RI juga Impor Apel Terbanyak dari China

Selain Bawang Putih, RI juga Impor Apel Terbanyak dari China

Kamis, 06 Februari 2020 11:12 WIB

NASIONAL, -  Pemerintah menghentikan sementara impor hewan hidup khususnya hewan liar (wild animal) dari China. Selain itu, ada rencana menghentikan sementara impor makanan-minuman tapi belum diputuskan. Hal ini untuk mengantisipasi penyebaran virus corona dari China yang sudah bikin khawatir China.

Dunia memang tengah digemparkan dengan keberadaan sebuah patogen mematikan yang ditemukan awal 2020. Virus yang masih satu keluarga dengan penyebab SARS ini juga menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan pneumonia.

Sejak pertama kali ditemukan di Wuhan, China bagian tengah, jumlah korban terus bertambah. Korban meninggal pertama adalah seorang pria berusia 61 tahun. Usut punya usut ada dugaan kuat virus ini bersumber dari pasar seafood dan hewan Huanan.

Pasalnya usai mengunjungi pasar tersebut, secara misterius mengidap pneumonia. Selang tak berapa lama, virus ini terus menjangkiti kota Wuhan dan menjadi epidemi. Beberapa pelancong yang mengunjungi kota Wuhan pun jadi korban.

Saat pulang ke kampung halaman di negara masing-masing, para pelancong ini mulai terinfeksi virus corona. Dari sinilah cerita penyebaran virus corona di berbagai negara berawal.

Update teranyar dari John Hopkins University CSSE, jumlah orang yang terjangkiti virus corona baru sampai saat ini mencapai 24.587 orang. Kasus terbanyak dilaporkan di China dengan total 24.374 orang. Sebanyak 213 kasus lainnya di laporkan di 26 negara di berbagai penjuru dunia.

Menurut data tersebut sudah ada 493 orang meninggal dunia dilaporkan. Kebanyakan berasal dari China. Namun dalam dua hari terakhir, dua korban meninggal dunia dilaporkan di luar China. Satu dari Hong Kong dan satu dari Filipina.

Epidemi yang saat ini jadi momok membuat banyak negara membatasi aktivitas transportasinya ke China. Berbagai maskapai penerbangan global seperti American Airlines, Delta Airlines, Luftansha, Korean Airlines, Lion Air, Cathay Pacific membatalkan perjalanan dari dan ke China untuk sementara waktu. Pengiriman dengan kapal kargo juga dibatasi.

Saat ini langkah Indonesia untuk merespons hal tersebut adalah dengan memulangkan lebih dari 200 WNI yang ada di Wuhan. Setelah dipulangkan, WNI ini dikarantina di Natuna dan selanjutnya akan terus dilakukan observasi.

Menyusul respons tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto juga bakal menghentikan sementara impor barang asal China, dimulai dari hewan hidup. Impor hewan hidup RI asal China pada 2018 nilainya termasuk kecil karena hanya 0,0008% dari total nilai impor barang RI dari China pada periode yang sama.

Selain impor hewan hidup, pemerintah juga sedang mempertimbangkan untuk menghentikan impor produk makanan dan minuman dari China, tapi belum jadi keputusan. Berdasarkan data Internasional Trade Center, produk yang bisa dikategorikan sebagai makanan yang diimpor dari China dan nilainya besar adalah buah-buahan (HS08) dan sayur-sayuran (HS07).

RI juga Impor Apel, Pir, Anggur, Jeruk dll dari China Lho

Pada 2018, nilai impor buah-buahan dari China mencapai US$ 741,35 juta. RI paling banyak mengimpor buah apel dan pir (HS0808) dari China kala itu dengan total nilai mencapai US$ 528,7 juta.

China memang merupakan produsen apel dan pir terbesar di dunia. Menurut data USDA produksi apel dan pir China berkontribusi lebih dari 50% total produksi global. Di posisi kedua ada Uni Eropa (UE).

Selain apel dan pir, RI juga mengimpor anggur dan jeruk dari Negeri Panda. Tak tanggung-tanggung pada 2018 nilai impor anggur baik yang segar maupun yang dikeringkan mencapai US$ 173.7 juta. Sementara impor jeruk pada periode yang sama nilainya mencapai US$ 26 juta.



Sehingga jika memang buah-buahan ini dipertimbangkan untuk jadi salah satu komoditas yang dibatasi impornya, maka RI dapat beralih ke UE. Namun faktor yang juga harus dipertimbangkan adalah ongkos kirim serta kebutuhan pasar dan standar produk untuk buah-buahan tanah air.

Selain buah-buahan, Indonesia juga mengimpor berbagai macam sayuran dari Tiongkok. Menurut penelusuran Tim Riset CNBC Indonesia, ada lebih dari 10 jenis sayuran yang diimpor dari China. Sayuran yang paling banyak diimpor adalah bawang putih.

Pada 2018, impor bawang putih RI dari China mencapai 580,6 ribu ton senilai US$ 493,6 juta. Sampai saat ini Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bawang putih tanah air. Lebih dari 90% kebutuhan bawang putih domestik dipasok oleh China.

Bisa dibayangkan kalau sampai komoditas ini juga masuk dalam daftar yang dihentikan impornya, maka seperti apa jadinya kalau tak dapat supply dari negara lain. Pasokan domestik bisa menipis, harga melambung dan tingkat inflasi meningkat yang akhirnya membuat daya beli tertekan. Ini merupakan skenario terburuk yang mungkin terjadi, maka untuk opsi ini harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang. 

Indonesia memang sangat bergantung pada China untuk komoditas bawang putih. Namun selain China RI juga mengimpor bawang putih dari India. Hanya saja jumlahnya jauh lebih rendah dari China. Pada 2018 impor bawang putih dari India hanya 464 ton.

Artinya jika dibandingkan dengan China, porsi impor bawang putih dari India ini kecil sekali, hanya 0,08% saja. Tak bisa dipungkiri selain memproduksi apel dan pir, China juga merupakan produsen bawang putih terbesar di dunia.

Menurut data World Atlas, tiap tahunnya China memproduksi 20 juta ton bawang putih, sementara itu di posisi kedua ada India dengan rata-rata produksi per tahunnya mencapai 1,25 juta ton. Di posisi ketiga ada Korea Selatan dengan rata-rata produksi mencapai 350 kilo ton per tahun. Baru ada Mesir dan Rusia masing-masing 260 kiloton per tahun.

Jika memang mau beralih ke pemasok lain seperti India misalnya maka lagi-lagi yang harus diperhatikan juga adalah ongkos kirim dan faktor lain seperti standar kualitas dan karakteristik komoditas itu sendiri.

Saat ini memang belum ada bukti yang menunjukkan virus corona dapat menyebar melalui permukaan benda tertentu atau bukti yang menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi medium transmisi virus.

Langkah pencegahan memang sesuatu hal yang lebih baik ketimbang harus mengobati. Namun situasi saat ini memang kompleks. Well, dunia sedang menghadapi situasi yang rumit. China yang notabene ekonomi terbesar kedua di dunia sedang kena musibah. Namun, ekonomi global saat ini sudah sangat terhubung dengan China melalui berbagai aktivitas perdagangan maupun manufaktur. Jika sudah begini, dampaknya memang bisa meluas. (CNBC/net/*).

T#gs
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments