Riau dan Ancaman Musim Kering yang tidak boleh Dianggap Biasa
Administrator Selasa, 18 Agustus 2026 08:31 WIB
Opini
Oleh: Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.
Musim kering bukan sesuatu yang baru bagi Riau. Namun perubahan kondisi iklim dan tekanan terhadap lingkungan membuat musim kering perlu dihadapi dengan cara yang lebih serius.
Ketika hujan berkurang, dampaknya tidak hanya dirasakan melalui cuaca yang panas. Ketersediaan air masyarakat dapat menurun, lahan menjadi lebih kering, kebutuhan air perkebunan meningkat dan risiko kebakaran hutan serta lahan ikut bertambah.
Bagi Riau, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena sebagian wilayahnya merupakan kawasan gambut.
Gambut memiliki hubungan yang sangat erat dengan air. Ketika gambut tetap basah, fungsi hidrologisnya dapat dipertahankan. Sebaliknya, ketika terlalu kering, risiko kebakaran meningkat.
Karena itu, menghadapi musim kering seharusnya tidak hanya berbicara mengenai bagaimana memadamkan api.
Kita juga perlu membicarakan bagaimana menjaga air agar api tidak mudah muncul dan berkembang.
Menjaga Gambut Berarti Menjaga Air
Gambut bukan sekadar lahan.
Ia merupakan bagian dari sistem penyimpanan air alami.
Ketika hujan turun, gambut dapat menyimpan air. Ketika musim kering datang, kondisi tersebut membantu menjaga kelembapan kawasan.
Namun apabila air terlalu cepat keluar melalui sistem drainase atau kanal, gambut dapat mengalami pengeringan.
Dalam kondisi tersebut, risiko kebakaran menjadi lebih besar.
Karena itu, pengelolaan tata air gambut harus menjadi bagian dari strategi pencegahan karhutla.
Pemantauan tinggi muka air, kondisi kanal dan kelembapan lahan perlu dilakukan secara konsisten, terutama ketika curah hujan mulai menurun.
Jangan Menunggu Titik Api
Kebakaran sering kali baru menjadi perhatian ketika titik api sudah terlihat.
Padahal proses menuju kebakaran telah berlangsung sebelumnya.
Hujan berkurang.
Hari tanpa hujan bertambah.
Vegetasi mengering.
Kelembapan gambut menurun.
Jika kondisi tersebut bertemu dengan sumber api, kebakaran dapat berkembang dengan cepat.
Karena itu, sistem peringatan dini harus mampu membaca kondisi sebelum kebakaran terjadi.
Data curah hujan, hari tanpa hujan, kelembapan lahan, tinggi muka air dan titik panas perlu digunakan secara bersama.
Tujuannya sederhana: bertindak sebelum kondisi menjadi darurat.
Air Hujan Perlu Disimpan
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting.
Ketika hujan turun deras, kita sering berusaha mengalirkan air secepat mungkin.
Ketika kemarau datang, kita kembali mencari air.
Cara berpikir seperti ini perlu diperbaiki.
Sebagian air hujan dapat disimpan untuk digunakan ketika kondisi mulai kering.
Embung dapat dikembangkan pada kawasan yang sesuai.
Air hujan dapat ditampung di rumah, sekolah, kantor dan fasilitas umum.
Kota dapat memperkuat kolam retensi.
Kawasan resapan juga harus dipertahankan.
Air yang datang ketika hujan jangan seluruhnya dianggap sebagai masalah.
Sebagian justru merupakan cadangan untuk menghadapi kemarau.
Kota Harus Memberikan Ruang bagi Air
Pertumbuhan Pekanbaru dan kawasan perkotaan lainnya merupakan bagian dari perkembangan Riau.
Namun pembangunan juga mengubah siklus air.
Jalan, bangunan dan permukaan perkerasan membuat semakin sedikit air yang dapat masuk ke dalam tanah.
Ketika hujan deras, limpasan meningkat.
Ketika kemarau, cadangan air dari infiltrasi menjadi semakin penting.
Karena itu, pembangunan kota harus mempertimbangkan fungsi hidrologis ruang.
Taman, ruang terbuka hijau, kolam retensi dan kawasan resapan tidak seharusnya dipandang hanya sebagai pelengkap.
Semuanya adalah bagian dari sistem pengelolaan air kota.
Kota membutuhkan ruang bagi manusia.
Tetapi kota juga membutuhkan ruang bagi air.
Perkebunan Perlu Memperhatikan Kondisi Air
Perkebunan merupakan sektor penting bagi perekonomian Riau.
Karena itu, persoalan tata air juga berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi.
Pada musim hujan, kelebihan air perlu dikelola.
Pada musim kering, kelembapan lahan perlu dipertahankan.
Khususnya di kawasan gambut, sistem kanal dan drainase perlu dikelola secara hati-hati.
Air yang terlalu cepat keluar dapat membuat lahan lebih kering.
Lahan yang semakin kering bukan hanya meningkatkan risiko kebakaran, tetapi juga dapat mengganggu keberlanjutan produksi. Dengan demikian, menjaga air bukan semata-mata persoalan lingkungan.
Ia juga merupakan kepentingan ekonomi masyarakat.
Data Cuaca Harus Menjadi Dasar Keputusan
Informasi cuaca semakin mudah diperoleh.
Namun informasi tidak cukup jika hanya dibaca.
Prakiraan musim kering harus diterjemahkan menjadi tindakan.
Ketika risiko kekeringan meningkat, pemantauan sumber air perlu diperkuat.
Ketika risiko karhutla meningkat, patroli harus ditingkatkan.
Ketika kondisi gambut mulai mengering, pengelolaan tata air harus dievaluasi.
Ketika masyarakat mulai mengalami keterbatasan air, sumber alternatif perlu disiapkan.
Dengan kata lain, data harus menjadi keputusan.
Masyarakat Memiliki Peran Penting
Pemerintah tidak mungkin mengawasi seluruh wilayah Riau seorang diri.
Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, gambut dan perkebunan justru sering menjadi pihak pertama yang mengetahui perubahan kondisi lingkungan.
Mereka dapat melihat kanal mulai kering.
Mereka dapat mengetahui ketika sumber air menurun.
Mereka dapat melaporkan asap atau api lebih awal.
Karena itu, masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem peringatan dini.
Teknologi memberikan informasi dari atas.
Petugas melakukan verifikasi di lapangan.
Masyarakat memberikan informasi langsung dari wilayahnya.
Jika ketiganya bekerja bersama, pencegahan akan menjadi jauh lebih efektif.
Ketahanan Air Tidak Dibangun Saat Krisis
Kita sering baru memikirkan air ketika air mulai sulit diperoleh.
Padahal ketahanan air harus dibangun sebelum krisis.
Sumber air perlu dipetakan.
Kawasan resapan perlu dilindungi.
Air hujan perlu dimanfaatkan.
Gambut perlu dijaga kelembapannya.
Tata air perkebunan perlu diperbaiki.
Dan masyarakat perlu mendapatkan informasi yang cukup.
Langkah-langkah tersebut mungkin tidak selalu terlihat seperti pembangunan besar.
Namun dampaknya sangat penting dalam jangka panjang.
Riau Perlu Mengubah Cara Memandang Air
Riau memiliki sungai, rawa, gambut dan sumber daya air yang besar.
Tetapi banyaknya sumber air tidak otomatis menjamin ketahanan air.
Air dapat melimpah ketika hujan dan menjadi sulit diperoleh ketika musim kering.
Karena itu, persoalan utamanya bukan hanya berapa banyak air yang tersedia.
Persoalannya adalah bagaimana air tersebut disimpan, dilindungi dan dikelola.
Kita tidak dapat mengendalikan hujan.
Kita tidak dapat menghentikan fenomena iklim.
Tetapi kita dapat menentukan apa yang dilakukan ketika hujan masih turun.
Kita dapat menyimpan sebagian air.
Kita dapat menjaga gambut tetap basah.
Kita dapat melindungi kawasan resapan.
Kita dapat membangun kota yang lebih ramah terhadap siklus air.
Dan kita dapat melibatkan masyarakat.
Kemarau seharusnya bukan sekadar musim yang kita tunggu untuk berlalu. Ia adalah ujian apakah Riau sudah benar-benar mampu mengelola airnya.
Tentang Penulis
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen pada Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Memiliki bidang keahlian pada hidrologi dan sumber daya air serta aktif dalam penelitian mengenai pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, dan risiko bencana hidrometeorologi.
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments
